Makalah Manajemen tentang Pasar Modal Tentang Dividen, Right Issue dan Harga Saham
Makalah Manajemen
tentang
Pasar
Modal Tentang Dividen,
Right
Issue dan Harga Saham
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Aktivitas
pasar modal di Indonesia telah berlangsung cukup lama yaitu sejak tahun 1912,
dan ketika itu masih dilakukan sepenuhnya oleh penjajahan Belanda. Pada saat
itu, efek yang di perdagangkan ialah saham dan obligasi milik perusahaan dan
pemerintahan Hindia Belanda. Setelah melewati masa kemerdekaan,
pemerintahan Indonesia mengambil alih dan meneruskan kembali perdagangan
efek yang telah dirintis oleh pemerintahan Hindia Belanda itu.
Perkembangan
pasar modal di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat terutama
setelah pemerintahan melakukan berbagai regulasi di didang keuangan dan
perbankkan termasuk pasar modal. Para pelaku di pasar modal telah menyadari
bahwa perdagangan efek dapat memberikan return yang cukup baik bagi
mereka, dan sekaligus memberikan konsribusi yang besar bagi perkembangan
perekonomian negara kita
Pasar
modal merupakan salah satu sarana bagi para pemilik dana atau investor dalam
melakukan investasi pada perusahaan yang membutuhkan dana. Menurut Abdul Halim
(2005: 4), “Investasi pada hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada
saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang”. Para
investor dapat membeli saham, obligasi atau surat berharga lainnya untuk
investasi mereka di pasar modal. Tempat terjadinya perdagangan sekuritas
tersebut adalah bursa efek, di Indonesia bernama Bursa Efek Indonesia (BEI). Tujuan dari para investor menanamkan dananya
di pasar modal tidak hanya bertujuan untuk memperoleh keuntungan dalam jangka
pendek tetapi juga dalam jangka panjang.
Menurut
Robert Ang (1997) dalam Subekti Puji Astuti (2006: 1) menyatakan bahwa “Pendapatan yang diinginkan oleh para
pemegang saham adalah pendapatan dividen (dividend yield) dan capital gain.
Dividend yield digunakan untuk mengukur jumlah dividen per lembar saham
terhadap harga saham dalam bentuk persentase”. Semakin besar dividend yield,
maka investor akan semakin tertarik untuk membeli saham tersebut.
B. Rumusan
Masalah
1. Bentuk pembayaran dividen
2. Dividen saham
3. Pemecahan saham
4. Right issue
C. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui bentuk
pembayaran dividen
2. Mahasiswa dapat mengetahui dividen
saham
3. Mahasiswa dapat mengetahui pemecahan
saham
4. Mahasiswa dapat mengetahui apa itu
right issue
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN DIVIDEN
Dividen didefinisikan sebagai:
v Pembagian
keuntungan kepada pemegang saham perusahaan yang sebanding dengan jumlah lembar
yang dimiliki (Baridwan, 1997: 37).
v Sisa
laba bersih perusahaan yang didistribusikan kepada pemegang saham atas
persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (Darmadji dan Fakhruddin, 2001: 127).
Dividen
diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika
seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang
saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan
saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang
berhak mendapatkan dividen.
Persentase
pendapatan yang akan dibayarkan kepada pemegang saham sebagai cash dividen
disebut dividen payout ratio (Riyanto, 1995: 266) dimana semakin tinggi tingkat
dividen payout ratio yang ditetapkan oleh suatu perusahaan, maka semakin kecil
dana yang tersedia untuk ditanamkan kembali di dalam perusahaan. Hal ini
berarti akan menghambat pertumbuhan perusahaan. Apabila dividen tidak
dibagikan, bisa jadi investor mempersepsikan bahwa perusahaan kekurangan dana,
yang menyebabkan harga saham akan turun.
B.
BENTUK-BENTUK DIVIDEN
Bentuk-bentuk
dividen yang dibagi oleh perusahaan adalah sebagai berikut (Baridwan, 1997:
434):
a. Dividen
Kas (dividen tunai)
Dividen ini merupakan dividen yang
paling umum dibagikan oleh perusahaan, dimana pembayarannya dilakukan setahun
sekali. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan agar dapat membayar
dividen ini:
Ø Laba ditahan yang mencukupi
Ø Kas yang memadai
Ø Tindakan formal dari dewan komisaris
b. Dividen
Aktiva Selain Kas (Property Dividend)
Dividen yang dibagikan dalam bentuk
aktiva selain kas disebut property dividend. Aktiva yang dibagikan bisa
berbentuk surat-surat berharga perusahaan lainnya yang dimiliki oleh perusahaan
ataupun barang dagangan.
c. Dividen
Utang (Scrip Dividend)
Dividen utang ialah janji yang
tertulis untuk membayar jumlah tertentu di waktu yang akan datang.
d. Dividen
Likuidasi
Dividen
likuidasi ialah dividen yang sebagian merupakan pengembalian modal.
e.
Dividen Saham
Dividen saham adalah pembagian
tambahan saham tanpa dipungut pembayaran kepada para pemegang saham sebanding
dengan saham yang dimilikinya.
C.
PROSEDUR PEMBAYARAN DIVIDEN
Prosedur pembayaran dividen adalah
sebagai berikut (Wacana, 1996: 98):
a. Tanggal
Pengumuman
Direksi mengadakan rapat, misalnya
tanggal 17 Oktober. Pada hari tersebut, mereka mengeluarkan pengumuman yang
kira-kira berbunyi sebagai berikut:
Ø “Pada
tanggal 17 Oktober 2014 Direksi dari perusahaan ABC mengadakan rapat dan
menyatakan pembayaran dividen per kuartal[1][1] sebesar Rp
50,00 per saham, ditambah dengan dividen ekstra sebesar Rp 75,00 per saham
kepada pemegang saham yang tercatat per tanggal 17 Oktober 2014. Pembayaran
akan dilakukan pada 2 Januari 2014.
b. Tanggal
Pencatatan Pemegang Saham
Tanggal pencatatan pemegang saham
biasanya pada tanggal 15 Desember, dimana pada tanggal ini perusahaan menutup
buku pencatatan pemindahtanganan dan membuat daftar dari pemegang saham per
tanggal tersebut.
c.
Tanggal Pemisahan Dividen
Hak untuk memperoleh dividen akan
tetap melekat pada saham sampai empat hari sebelum tanggal pencatatan saham.
Pada hari keempat sebelum tanggal pencatatan, hak dividen tidak lagi melekat
pada saham. Tujuannya: menghindari keterlambatan pemberitahuan pemilik saham
baru kepada perusahaan.
d. Tanggal
Pembayaran
Pada tanggal 2 Januari sebagai
tanggal pembayaran perusahaan akan mengirimkan cek kepada pemegang saham yang
tercatat sebagai pemegang saham.
D.
DIVIDEN TUNAI
Dividen tunai merupakan:
Ø Keputusan
untuk membagi keuntungan berupa dividen kepada pemegang saham atau ditahan
dalam bentuk laba ditahan untuk membiayai investasi di masa depan.
Ø Bagian
integral dari perusahaan
Dividen tunai menentukan penempatan
laba, yaitu antara membayar kepada pemegang saham dan menginvestasikan kembali
ke dalam perusahaan. Kebijakan ini berkaitan dengan penentuan pembagian laba
bersih antara pengguna pendapatan untuk dibayarkan kepada pemegang saham
sebagai dividen dan digunakan perusahaan sebagai laba ditahan.
Laba ditahan merupakan salah satu
dari sumber dana yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan,
tetapi dividen merupakan arus kas yang disisihkan untuk pemegang saham (Wacana,
1996: 97). Nilai saham akan maksimal jika terjadi keseimbangan antara dividen
saat ini dan laba ditahan.
a. Kebijakan
dividen tunai (Halim dan Sarwoko, 1995:216) yaitu :
Ø Dividen
tetap setiap periode
Dividen yang dibayarkan pada akhir
tahun setiap periode walaupun pendapatan berfluktuasi. Kebijaksanaan ini dapat
memenuhi harapan pemegang saham akan penghasilan periode ini, namun saat
tahun-tahun dimana pendapatan perusahaan menurun dapat mengakibatkan kekurangan
kas, karena kas yang ada telah disepakati untuk dibagikan kepada pemegang saham
sebagai dividen.
Ø Dividen
tetap pada tingkat yang lebih rendah
Salah satu faktor yang membuat
kebijaksanaan menetapkan dividen tetap pada tingkat yang lebih rendah adalah
menghimpun dana dari dalam perusahaan untuk pembiayaan suatu investasi yang
baru. Kebijakan ini dapat menimbulkan respon pasar yang negatif terhadap harga
saham karena berkurangnya penghasilan pemegang saham pada periode ini, dan
untuk mengurangi risiko tersebut mungkin perusahaan dapat mengumumkan bahwa
pada masa yang tidak lama lagi atau jika investasi yang baru sudah menghasilkan
keuntungan akan ada kenaikan dividen.
Ø Dividen
tetap pada tingkat yang lebih tinggi
Keputusan untuk menetapkan dividen
pada tingkat yang lebih tinggi menunjukkan bahwa pendapatan juga sudah stabil
pada tingkat yang lebih tinggidan perusahaan tidak membutuhkan kelebihan dana
untuk membelanjaipertumbuhan. Pada banyak kasus, pendapatan-pendapatan yang
lebih tinggi akan menyebabkan suatu kenaikan pada harga saham, dan penetapan
dividen ini tidak akan mempunyai pengaruh.
Ø Dividen
yang berfluktuasi sesuai dengan pendapatan
Dividen tunai yang berfluktuasi
sesuai dengan pendapatan kurang disukai oleh investor, karena unsur
ketidakpastian akan penghasilan pada periode ini. Kebijaksanaan tersebut
memberikan suatu kepastian jumlah dana yang tersedia di perusahaan untuk
membiayai kebutuhan perusahaan.
Ø Dividen
rendah yang teratur ditambah ekstra dividen
Bila tahun ini pendapatan perusahaan
baik, akan dideklarasikan ekstra dividen. Pendekatan ini memberikan keluwesan
untuk menggunakan dana yang tersedia dengan optimal.
Ø Menghapus
dividen sama sekali
Ada dua alasan bagi perusahaan
untuk tidak membagikan dividen yaitu:
1. Keadaan perusahaan mengalami
kesulitan keuangan yang serius sehingga tidak memungkinkan untuk membayar
dividen.
2. Adanya kebutuhan dana yang sangat
besar karena investasi yang sangat menarik sehingga harus menahan seluruh
pendapatan untuk membelanjai investasi tersebut. Untuk mengambil keputusan
seperti ini perusahaan harus dapat menerangkan alasan secara sangat hati-hati
kepada para investor.
b. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Dividen Tunai
Faktor-faktor yang mempengaruhi
dividen tunai (Riyanto, 1994: 202) yaitu:
Ø Posisi
likuiditas perusahaan, dimana semakin kuat posisi likuiditas perusahaan maka
semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
Ø Kebutuhan dana untuk membayar hutang yang berasal dari laba,
maka hal ini mengakibatkan semakin kecil kemampuan perusahaan untuk membagikan
dividen.
Ø Tingkat pertumbuhan perusahaan yang semakin tinggi, dimana
kebutuhan dananya dapat dipenuhi dengan dana yang berasal dari pasar modal,
maka perusahaan dapat menetapkan pembayaran dividen yang tinggi.
Ø Pengawasan terhadap perusahaan oleh para pemegang saham.
c.
Profitabilitas
Laporan keuangan merupakan sarana
untuk mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan oleh manajemen atas sumber daya
pemilik, dan dari laporan keuangan tersebut parameter yang digunakan untuk
mengukur kinerja manajemen adalah laba.
Laba yang dilaporkan merupakan signal
mengenai laba di masa yang akan datang, oleh karena itu pengguna laporan
keuangan dapat membuat prediksi atas laba perusahaan untuk masa yang akan
datang berdasarkan signal yang disediakan oleh manajemen melalui laba yang
dilaporkan.
Hughes (1986) dalam Hartono (2000),
menunjukkan bahwa nilai laporan keuangan seperti laba bersih perusahaan yang
dianggap sebagai signal yang menunjukkan nilai dari perusahaan. Hartono (2000)
menunjukkan bahwa laba dan arus kas periode lalu mempunyai manfaat untuk memprediksi
laba dan arus kas satu tahun ke depan.
Menurut ruang lingkupnya, ada tiga
konsep laba yang dikemukakan Financial Accounting Standard Board (FASB) dalam
Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) no.5, yaitu earnings, net
income, dan comprehensive income. Sebagaimana dikutip Hudayati (1999),
pengertian earnings adalah kenaikan ekuitas atau aktiva neto suatu perusahaan
yang disebabkan karena aktivitas pokok maupun aktivitas di luar usaha selama
periode tertentu. Earnings mempunyai empat komponen, yaitu revenues, expenses,
gains, dan loses. Adapun net income adalah earnings ditambah atau dikurangi
pengaruh perubahan akuntansi tahun lalu, sedangkan comprehensive income adalah
net income ditambah atau dikurangi berbagai kenaikan aktiva yang tidak disebabkan
oleh setoran modal pemilik, yang biasa disebut sebagai No Owner Change in
Equity atau dapat juga disebut laba bersih setelah pajak (Earning After Tax).
d. Hubungan
Antara Dividen Tunai, Profitabilitas, Pertumbuhan Penjualan, dan Tingkat
Pengembalian Saham Terhadap Harga Saham
1. Teori-
teori
a. Pengaruh
Dividen Tunai Terhadap Harga Saham
Dividen tunai dapat meningkatkan
nilai perusahaan karena melalui pengumuman dividen, manajer dapat mengirim
signal kepada publik bahwa perusahaan memiliki ketersediaan dana untuk
membiayai aktivitasnya. Signal ini diterima publik sebagai kabar baik, sehingga
reaksi yang terjadi adalah harga saham meningkat.
b. Pengaruh
Profitabilitas Terhadap Harga Saham
Profitabilitas berpengaruh positif
terhadap harga saham, dengan anggapan bahwa pemodal yang ada di bursa telah
mempertimbangkan informasi laba dalam menentukan harga saham yang akan dibeli
atau dijual. Dengan kata lain, informasi laba yang diterbitkan melalui laporan
keuangan tahunan merupakan informasi yang relevan bagi pemodal sebagai dasar
dan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi di pasar modal,
khususnya dalam melakukan jual beli saham yang diperdagangkan di BEJ.
c.
Pengaruh Pertumbuhan penjualan Terhadap Harga Saham
Pertumbuhan penjualan berpengaruh
positif terhadap harga saham, dengan anggapan bahwa bila pertumbuhan penjualan
tinggi maka laba perusahaan akan tinggi. Hal itu akan mempengaruhi total nilai
sekarang dari seluruh aliran kas yang akan diterima pemodal. Karena harga saham
merupakan total dari nilai perusahaan, maka bila pertumbuhan penjualan
meningkat diharapkan harga saham juga akan ikut meningkat.
d. Pengaruh
Tingkat Pengembalian Saham Terhadap Harga Saham
Harga saham merupakan total nilai
sekarang dari seluruh aliran kas yang akan diterima pemodal selama periode
pemegang saham berdasarkan tingkat keuntungan (rate of return) yang dianggap
layak.
E.
DIVIDEN SAHAM
1. Pengertian
Dividen Saham
Dividen saham (stock dividend)
adalah pembagian saham perusahaan yang bersangkutan secara pro rata kepada pemegang sahamnya. Jika dividen tunai
dibayarkan dalam bentuk tunai, dividen saham dibayarkan dalam bentuk saham.
Selain pembagian dividen dalam
bentuk surat berharga, alternative yang paling sering dilakukan adalah dividen
dalam bentuk saham bila perusahaan kekurangan likuiditas (kas) pembagian
dividen jenis stock biasanya diberikan secara merata bagi semua pemegang saham.
Pembagian dividen saham sesungguhnya
tidak menyebabkan kekayaan perusahaan berkurang. Nilai asset bersih perusahaan,
tetap seperti sebelum pembagian dividen. Demikian halnya dengan komposisi
kepemilikan. Transaksi dilakukan dengan cara mengkapitalisasi laba ditahan. Artinya
saldo laba ditahan (sebagian atau seluruhnya) dipindahkan kea kun modal.
Sehingga modal disetor bertambah, sedangkan laba ditahan berkurang atau habis.
2. Tujuan
Dividen Saham
Tujuan dividen saham ialah sebagai
berikut :
Ø Memenuhi harapan pemegang saham
untuk mendapatkan dividen tanpa mengeluarkan uang tunai
Ø Meningkatkan daya jual saham
perusahaan. Ketika jumlah saham dipasar meningkat, harga saham per-lembarnya
akan turun. Penurunan harga pasar tersebut akan memudahkan para investor yang
lebih kecil untuk membeli saham perusahaan.
Ø Menekankan bahwa sebagian dari
ekuitas pemegang saham telah diinvestasi ulang secara permanen kedalam usaha
(dan tidak tersedia untuk dividen tunai).
Perlakuan akuntansi dividen saham
berbeda-beda tergantung posisi dividen saham yang dibagikan:
a. Dividen
Saham Jumlah Kecil
Untuk dividen saham dalam jumlah
kecil (kurang dari 25% saham beredar, maka saham yang akan diterbitkan sebagai
dividen dinilai sebagai harga pasar wajar
b. Dividen
Saham Dalam Jumlah Besar
Untuk dividen saham dalam jumlah
besar (lebih dari 25% sisa saham belum terjual), maka saham yang akan
diternitkan sebagai dividen dinilai sebesar nilai par-nya
F.
PEMECAHAN SAHAM ( STOCK SPLIT )
1. Pengertian
Pemecahan Saham
Pemecahan saham /
Stock split adalah suatu aktifitas yang dilakukan oleh para manajer perusahaan
dengan melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nominal per
lembar saham sesuai dengan split factornya[2][2].
Pada dasarnya ada dua jenis pemecahan saham yang dapat dilakukan, yaitu
pemecahan naik (split up) dan pemecahan turun (split down / reverse split).
Pemecahan naik adalah meningkatan jumlah saham yang beredar dengan cara memecah
selembar saham menjadi n lembar saham[3][3]. Pemecahan naik ini mengakibatkan bertambahnya jumlah
saham yang beredar, misalnya pemecahan saham dengan split factor 2:1, 3:1, 4:1.
Sedangkan pemecahan turun adalah kebalikan dari pemecahan naik, yaitu
peningkatan nilai nominal per lembar saham dan mengurangi jumlah saham yang
beredar. Misalnya pemecahan turun dengan split factor 1:2, 1:3, 1:4. Pemecahan
saham (split up) biasanya dilakukan perusahaan pada saat harga saham dinilai
sudah terlalu tinggi sehingga mengakibatkan daya beli investor berkurang[4][4]. Oleh karena itu, pemecahan saham dilakukan karena
diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain[5][5]:
1. agar saham tidak
terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan
meningkatkan likuiditas perdagangan saham
2. untuk mengembalikan
harga dan ukuran perdagangan rata rata saham kepada kisaran yang telah
ditargetkan
3. untuk membawa
informasi mengenai kesempatan investasi yang berupa peningkatan laba dan
deviden kas
Perlu untuk
diketahui bahwa pemecahan saham hanya mengakibatkan penambahan jumlah lembar
saham, tetapi tidak mengubah jumlah modal ditempatkan dan modal disetor (paid
in capital), sehingga ada yang berpendapat bahwa pemecahan saham hanya
merupakan corporate action yang sifatnya adalah kosmetik dan administratif
yaitu upaya memoles saham agar tampak lebih menarik di mata investor, dimana
tindakan ini hanya menyebabkan perubahan akuntansi lewat pengurangan nilai par
tetapi tidak mengubah jumlah modal di neraca sehingga tidak mengubah kekayaan
perusahaan[6][6].
Tindakan pemecahan saham menimbulkan efek fatamorgana saja dimana investor
seolah olah menjadi lebih makmur karena memegang lembar saham dalam jumlah yang
lebih banyak, padahal penambahan lembar
saham yang dimiliki juga dibarengi dengan penurunan nilai per lembar saham.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pemecahan saham tidak memiliki
nilai ekonomis. Meski demikian, banyaknya peristiwa pemecahan saham yang
terjadi tetap mengindikasikan bahwa pemecahan saham merupakan salah satu
instrumen penting yang dipakai perusahaan di pasar modal. Grinblatt, Masulis dan Titman dalam Winarso
(2005) berpendapat bahwa pemecahan saham, meski tidak memiliki nilai ekonomis,
memberikan sinyal yang positif terhadap aliran kas perusahaan pada masa yang
akan datang. Sinyal positif dari pengumuman pemecahan saham menginterpretasikan
bahwa manajer perusahaan akan menyampaikan prospek kinerja keuangan yang baik
sehingga dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan investor.
2. Pengaruh
Pemecahan Saham Pada Harga Saham
Harga saham yang
dimaksud adalah harga pasarnya. Harga pasar saham lebih sering dipakai dalam
berbagai penelitian pasar modal, karena harga pasar saham yang paling
dipentingkan oleh investor. Harga pasar saham mencerminkan nilai suatu
perusahaan tersebut dan sebaliknya.
Oleh karena itu setiap perusahaan
yang menerbitkan saham sangat memperhatikan harga pasar sahamnya. Harga saham
yang terlalu rendah sering diartikan bahwa kinerja perusahaan kurang baik.
Namun bila harga saham terlalu tinggi juga menimbulkan dampak yang kurang baik.
Harga saham yang terlalu tinggi akan mengurangi kemampuan investor untuk
membelinya, sehingga menyebabkan harga saham tersebut sulit untuk meningkatkan
lagi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, banyak perusahaan melakukan stock
split.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan
daya beli investor dan meningkatkan harga saham tersebut. Berbagai penelitian
empiris telah dilakukan untuk menguji kebenaran bahwa stock split memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Para peneliti tersebut
memperoleh kesimpulan yang sama bahwa sebenarnya stock split tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap harga saham. Perubahan saham yang terjadi di sekitar
periode stock split semata-mata hanya dipengaruhi oleh ekspektasi para investor
terhadap deviden yang telah dibagikan.
Para emiten mempunyai pendapat
bahwa stock split memiliki berbagai macam manfaat,
diantaranya :
a.
Harga yang lebih rendah
setelah stock split akan meningkatkan daya tarik investor
untuk membeli sejumlah saham yang lebih besar.
b.
Meningkatkan daya tarik investor
kecil untuk melakukan investasi
c.
Meningkatkan jumlah pemegang saham
sehingga pasar akan menjadi likuid
d.
Sinyal yang positif bagi pasar bahwa
kinerja manajemen perusahaan bagus dan memiliki prospek yang bagus
3. Teori
Pemecahan Saham (Stock Split)
Secara teoritis motivasi yang
melatar belakangi perusahaan melakukan pemecahan saham (stock split), tertuang
dalam dua teori berikut yaitu Trading Range Theory dan Signaling
Theoy[7][7] yaitu sebagai berikut :
a.
Trading Range Theory
Berkaitan dengan teori ini,
pemecahan saham (stock split) akan meningkatkan likuiditas saham. Harga
saham yang terlalu tinggi (over price) menyebabkan kurang aktifnya saham
tersebut diperdagangan Pasar Modal. Dengan adanya pemecahan saham (stock split) harga saham menjadi tidak
terlalu tinggi, sehingga makin banyak investor bertransaksi[8][8]. Manajemen melakukan pemecahan
saham (stock split) didorong oleh perilaku praktisi pasar yang
konsisten, dengan anggapan bahwa dengan melakukan pemecahan saham (stock
split) dapat menjaga harga saham tidak terlalu mahal. Dengan nominal saham
dipecah maka akan tercipta batas harga yang optimal untuk saham dan untuk
meningkatkan daya beli investor,
sehingga tetap banyak orang yang mau memperjualbelikannya yang pada
akhirnya akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham itu sendiri.
Dengan kata lain, harga saham yang
terlalu tinggi mendorong perusahaan melakukan pemecahan saham ( Stock Split ). Dengan melakukan
pemecahan saham (stock split),
diharapkan perusahaan dapat menstabilkan harga yang awalnya mengalami
peningkatan yang cukup
tinggi dan membuat
saham tersebut menjadi kurang
aktif, serta dengan pemecahan harga saham tentu harga saham tersebut mengalami
penurunan, sehingga diharapkan itu dapat mendorong investor lain khususnya
investor menengah kebawah agar dapat ikut berinvestasi dan aktivitas tersebut
akan meningkatkan likuiditas dari perdagangan saham.
b.
Signaling Theory
Dalam model Signalling Theory yang dikembangkan oleh Brennan dan Copeland
(1988), Menyatakan bahwa pemecahan saham (stock
split) memberikan sinyal yang informatif pada investor mengenai prospek
peningkatan return masa depan yang
substansial. Dilakukannya pemecahan saham(Stock
Split) oleh perusahaan memerlukan biaya yang cukup mahal, karena
meningkatkan biaya administrasi penerbitan saham dan biaya transaksi investor.
Oleh karena itu, hanya perusahaan yang mempunyai prospek yang bagus saja yang
mampu melakukan pemecahan saham (stock
split). Karena biaya yang harus dikeluarkan guna melakukan pemecahan saham
(stock split) tersebut.
Jadi berdasarkan teori ini,
menyatakan bahwa dilakukannya pemecahan saham (stock split) akan memberikan sinyal positif kepada investor. Dengan
pemikiran bahwa dilakukannya pemecahan saham (stock split) ini membutuhkan
biaya yang cukup
mahal, maka hanya perusahaan dengan prospek baiklah yang dapat
melakukannya. Dengan melihat prospek baik itulah diharapkan dapat memberikan return yang besar dimasa depan.
Dikarenakan hal itulah
dilakukannya pemecahan saham (stock
split) pasar akan bereaksi karena
adanya sinyal positif yang ditimbulkan dari adanya pemecahan saham (stock split), reaksi ini adalah karena
pasar beranggapan bahwa perusahaan tersebut memiliki prospek yang baik dimasa
yang akan datang. Dapat dikatakan bahwa pemecahan saham (stock split) dapat dijadikan upaya yang akan menarik bagi para
investor besar maupun menengah kebawah, dengan adanya pemecahan saham (stock split).
Marwata (2001 : 9) juga menyatakan
bahwa atas signalling theory yang dikembangkan oleh Brennan
dan Copeland (1988), pengumuman atas pemecahan saham (Stock Split) dianggap sebagai sinyal yang diberikan oleh manajemen
kepada publik bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik di masa depan. Jadi
reaksi pasar terhadap pemecahan saham (Stock
Split) tersebut sebenarnya bukan terhadap tindakan pemecahan saham (Stock Split) itu sendiri, melainkan
terhadap prospek perusahaan di masa depan yang di sinyalkan dari aktivitas
pemecahan saham (stock split) tersebut.
4. Jenis
Pemecahan Saham
Pada dasarnya ada dua jenis
pemecahan saham yang dilakukan menurut Samsul (2006) yaitu sebagai berikut :
a.
Pemecahan Saham Naik (Split-Up)
Pemecahan saham naik adalah satu
saham lama ditarik dari peredaran dan diganti dengan dua saham baru tetapi
nilai nominal saham baru itu lebih kecil ½ dari nilai nominl sebelumnya. Dengan
demikian penurunan nominal per lembar saham tersebut, yang mengakibatkan
bertambahnya jumlah saham yang beredar. Misalnya :
Pemecahan saham turun dengan faktor
pemecahan 1:3. Dimana nilai nominal awal perlembar saham sebesar Rp. 15.000
setelah dilakukannya Split-Up dengan
perbandingan 1:3 nilai nominal per lembar saham yang baru adalah menjadi Rp.
5000. Sehingga awalnya satu lembar menjadi tiga lembar.
b.
Pemecahan Saham Turun (Split Down atau Reverse
Split)
Pemecahan
saham turun (Split Down) adalah menurunkan jumlah
saham beredar. Dengan demikian peningkatan nilai nominal per lembar saham dan
mengurangi jumlah saham yang beredar sehingga mengakibatkan harga saham akan
naik. Tujuan di lakukannya pemecahan saham turun (Split Down) adalah untuk meningkatkan harga saham di pasar agar image perusahaan meningkat, karena
dengan meningkat harga saham perusahaan memberikan efek bahwa perusahaan
tersebut memiliki peningkatan dalam usahanya. Misalnya :
Pemecahan saham dengan faktor
pemecahan 3:1. Dimana nilai nominal awal perlembar saham sebesar Rp. 1.000
setelah dilakukannya Split-Down
dengan perbandingan 3:1 nilai nominal per lembar saham yang baru adalah menjadi
Rp 3.000. Sehingga awalnya tiga lembar menjadi satu lembar.
5. Tujuan
dan Manfaat Dilakukannya Pemecahan Saham (Stock Split)
a.
Tujuan dilakukannya Pemecahan Saham (Stock Split)
Tujuan dari dilakukannya pemecahan
saham (Stock Split) adalah agar
perdagangan suatu saham menjadi lebih likuid. Hal itu karena jumlah saham yang
beredar menjadi lebih banyak dan harganya menjadi lebih murah dan akan sangat
efektif bila dilakukan terhadap saham–saham yang harganya sudah cukup tinggi.[9][9]
Berdasarkan uraian mengenai tujuan dari pemecahan saham (Stock Split) yang sudah dikemukakan
sebenarnya, intinya yaitu dilakukannya pemecahan saham (Stock Split) adalah untuk menstabilkan harga saham itu sendiri.
Karena dengan pemecahan saham (stock
split), artinya jumlah saham dipecah menjadi lebih banyak, dan pasti
harganya pun turun. Sehingga dapat menstabilkan yang awalnya harga saham itu
perlembarnya sangat tinggi, menjadi lebih murah dan diharapkan dapat menjadi
lebih aktif dari pemecahan saham (stock
split) tersebut. Karena dari penurunan harga tersebut diharapkan adanya
aksi pembelian saham tidak saja dari investor kalangan menengah ke atas, namun
investor kalangan kebawah. Dengan begitu saham menjadi lebih aktif ketimbang
harga saham sebelumnya yang tinggi, membuat investor enggan untuk membeli.
b.
Manfaat dari dilakukannya Pemecahan Saham (Stock Split)
Beberapa pelaku pasar khususnya
perusahaan (emiten), berpendapat bahwa aktivitas pemecahan saham (Stock Split) dapat memberikan manfaat besar bagi perusahaan. Dengan
Harga saham setelah pemecahan saham (stock split) akan menjadi lebih
rendah, sehingga menambah daya tarik bagi investor baru untuk membeli saham.
Berdasarkan teori yang telah dijelaskan sebelumnya dilakukannya pemecahan saham
(stock split) memberikan signal
positif bagi para investor, karena dalam melakukan pemecahan saham (stock split) dibutuhkan biaya yang cukup
mahal sehingga biasa dilakukan oleh perusahaan yang memiliki prospek baik.
Diharapkan aktivitas jual beli terhadap saham tersebut menjadi meningkat dan
mendorong investor menengah kebawah untuk ikut serta didalam pembelian
tersebut.
G. RIGHT
ISSUE
Right Issue merupakan hak untuk
memesan saham baru yang akan dikeluarkan oleh emiten. Right ini diberikan
cuma-Cuma dan diprioritaskan kepada pemegang saham yang namanya sudah terdaftar
dalam daftar pemegang saham suatu perseroan terbatas untuk menerima penawaran
terlebih dahulu apabila perusahaan sedang menjalani proses emisi atau
pengeluaran saham-saham dari saham potopel atau saham simpanan. Hak tersebut
diberikan dalam jangka waktu 14 hari terhitung sejak tanggal penawaran
dilakukan dan jumlah yang berhak diambil seimbang dengan jumlah saham yang
mereka miliki secara proporsional.
Right issue adalah salah satu bentuk
corporate action yang dilakukan oleh perusahaan saat hendak melepaskan/menjual
saham ke public (Initial Public Offering/IPO). Mekanismenya, perusahaan
tersebut menjual hak beli kepada publik/pemegang saham yang sudah ada, sehingga
si pemegang hak beli tersebut pada periode yang telah ditetapkan berhak melakukan
pembelian saham sesuai dengan harga yang telah ditetapkan.
Istilah yang perlu diketahui seputar
right issue :
1. Persetujuan
Pemegang Saham
Right issue dilakukan atas dasar
persetujuan rapat umum pemegang saham. Setelah mendapatkan persetujuan, emiten
emiten harus menawarkan saham barunya tersebut kepada pemilik saham lama
terlebih dahulu, sesuai dengan proporsi kepemilikannya (Preemtive right).
2. Tujuan
Pada umumnya tujuan right issue
adalah untuk menghimpun dana segar yang akan digunakan untuk ekspansi usaha,
membayar pinjaman, atau untuk modal kerja. Beberapa tujuan lainnya adalah untuk
meningkatkan porsi kepemilikan pemegang saham, atau untuk meningkatkan jumlah
saham beredar sehingga lebih liquid perdagangannya.
3. Penjamin
Emisi
Menjamin dana hasil rights
issue diterima oleh emiten
4. Stanby
Buyer
Investor yang siap membeli saham
baru yang tidak terjual.Standby buyer bisa berasal dari pemegang
saham lama ataupun investor lain
5. Harga
Umumnya harga rights issue lebih
rendah dari harga pasar, hal ini sebagai insentif bagi pemegang saham lama.
Namun sebetulnya, harga persaham dari total saham yang dimiliki investor, tidak
menjadi serendah harga rights issue. Pemilik saham harus melakukan
penyesuaian harga dengan menambahkan nilai saham lamanya dengan nilai saham
baru, dan kemudian dibagi dengan total jumlah saham. Harga penyesuaian akan
menunjukkan harga pasar yang terdilusi. Itulah sebabnya mengapa rights
issue ditawarkan kepada pemegang saham lama terlebih dahulu.
6. Cum
dan Ex-date
Rights
issue akan ditawarkan kepada
investor yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada waktu yang telah ditentukan.
Artinya investor yang membeli saham pada waktu tersebut, berhak untuk membeli
saham (cum rights). Sementara itu, investor yang memiliki saham diluar
waktu tersebut,tidak akan mendapatkan hak membeli saham (ex-rights), dan
hak atas rights menjadi milik penjual.
7. Manfaat
Rifgt Issue Bagi Konsumen
Pengumuman
penerbitan saham baru (right issue) merupakan berita yang disampaikan oleh
pihak manajemen perusahaan yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai perusahaan.Investor akan merespon informasi
tersebut sebagai sinyal terhadap adanya peristiwa (event) tertentu yaitu berupa
sinyal positif (good news) atau berupa sinyal negatif (bad news). Apabila dana
dari penerbitan saham baru (right issue) digunakan untuk ekspansi usaha atau
perbaikan struktur modal, maka kinerja perusahaan akan lebih baik di masa
depan. Sehingga informasi yang dihasilkan memberikan sinyal positif bagi
investor yang selanjutnya akan meningkatkan harga saham perusahaan.
Tetapi jika dana dari penerbitan
saham baru (right issue) akan digunakan untuk tujuan perluasan investasi yang
mempunyai nilai sekarang bersih (net present value) nol atau
negatif dan untuk membayar utang yang telah jatuh tempo sehingga
menyebabkan kondisi laba di masa depan menurun, maka informasi yang diperoleh
investor memberi sinyal yang negatif. Sinyal tersebut akan direspon oleh
investor yang tercermin dengan perubahan harga saham dan tingkat likuiditas
saham di seputar pengumuman penerbitan saham baru (right issue) yang dilakukan
oleh perusahaan.
8. Bentuk
Lain dari Right Issue
Ø Saham bonus, saham yang dibagikan
secara cuma-cuma kepada pemilik saham lama.
Ø Stock Dividend. Pembagian keuntungan emiten kepada
investor dalam bentuk saham.
Ø Stock split, memecah jumlah saham yang
berakibat juga pada pemecahan harga per-saham.
Ø Waran: suatu hak bagi investor yang
memilkinya, untuk membeli saham pada harga dan pada waktu yang telah
ditentukan, umumnya 3-5 tahun ke depan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pasar modal merupakan sarana untuk
mempertemukan 2 kepentingan dari 2 pihak yang berbeda. Dua sekuritas utama yang
diperdagangkan di pasar modal adalah saham dan obligasi. Masing- masing
mengandung hak dan kewajiban yang berbeda baik bagi pembeli maupun penjual
saham, juga tingkat keuntungan dan tingkat resiko yang berbeda.
Daftar
Pustaka
v Darmadji, Tjiptono dan Hendy M.
Fakhruddin. 2001. Pasar Modal di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
v Baridwan, Zaki. 1997. Akuntansi Intermediate.
Yogyakarta: BPFE.
v Riyanto, Bambang.
1994. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta:
Yayasan Penerbit Gadjah Mada.
v Halim, Abdul dan
Sarwoko. 1995. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan.
Yayasan: AMP YKPN.
Comments
Post a Comment